Tampilkan postingan dengan label Kampoengku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampoengku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

PLADU

Diposting oleh missmayssu di Sabtu, Oktober 09, 2010 6 komentar
   Bagi masyarakat di Kampoengku dan sekitarnya mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata Pladu, tapi sebagian dari mereka juga masih belum tahu betul asal muasal Pladu, karena selama ini mereka menganggap Pladu adalah fenomena alam yang menguntungkan bagi mereka.
Pladu versi orang awam Kampoengku adalah datangnya hujan frontal setelah musim kemarau, sehingga membuat endapan lumpur sungai Bengawan Solo naik ke permukaan. Keadaan yang demikian membuat makhluk hidup yang ada di sungai kehilangan penglihatannya dan berenang tak tentu arah hingga ke permukaan sampai ke tepian sungai.

Pladu adalah saat yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di daerah sekitar aliran bengawan Solo. Mereka akan menyambut dengan suka cita karena ikan dan udang seolah menghampiri mereka dan menyerahkan diri untuk dipanen tanpa susah payah

Tapi tahukan mereka, bahwa Pladu adalah hasil dari perbuatan keji yang dilakukan oleh sebagian orang/oknum yang tidak bertanggung jawab, yang demi melancarkan kepentingannya pribadi mereka telah merusak ekosistem yang ada di dalam air sungai?

Menurut hasil investigasi, survey dan logika saya setelah cari tahu sana sini, Pladu memang awalnya terbentuk dari fenomena alam, yaitu datangnya hujan frontal seperti pengertian awam tadi, tetapi tidak sampai membuat ikan kehilangan penglihatannya. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan debit air sungai meningkat ditambah dengan keruhnya air sungai kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuang limbah industrinya ke sungai. Kandungan racun dari limbah cair pabrik yang  tidak diolah lebih dulu itulah yang menyebabkan kehancuran makhluk hidup air sungai. Bahkan limbah cair yang sudah diolah, sisa olahannyapun masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Krom  (Cr), Seng (Zn) dan Nikel (Ni). Untuk kawasan aliran sungai bengawan Solo kadar racunnya mungkin tidak terlalu tinggi atau masih diambang batas, terbukti ikan ataupun udang tidak sampai mati, layaknya ikan yang terkena racun dengan kandungan Merkuri (Hg),  limbah yang berasal dari pabrik kertas (Pulp=bubur kertas).

Belum ada penelitian mengenai hal ini, racun apa yang terkandung dalam ikan Pladu ini. Namun jika ikan yang tercemar ini dikonsumsi terus menerus tentu saja akan berdampak yang tidak baik untuk kesehatan. Ikan yang tercemar oleh merkuri jika dikonsumsi oleh ibu hamil bisa merusak janin bahkan kematian. Pladu itu sendiri hanya terjadi kurang dari 10 kali dalam kurun waktu satu tahun.

Ternyata apa yang dianggap menguntungkan menurut masyarakat itu sebenarnya tidaklah benar. Karena selain merusak alam juga kelangsungan hidup ikan dan manusia itu sendiri.

Ikan sungai bengawan Solo memang berbeda dengan ikan air tawar lainnya, rasanya gurih, dan sangat jarang kita temui. Mungkin karena tidak mudah menangkapnya akibat derasnya arus sungai, kecuali jika musim kemarau. Ikan-ikan bengawan Solo antara lain, Jendil, Rengkik, Thengil, Badher dan Wader. Paling enak adalah ikan Jendil. Harga satu ekor ikan Jendil dengan panjang 15cm saja bisa setara dengan harga satu ekor ayam kampung.

Pulang kampung kemarin aku coba ke pasar cari ikan Jendil, tapi cuma dapet ikan Wader. Ikan Wader ini adalah baby fish dari ikan Badher.
Ikan Wader ini jika digoreng kering rasanya gurih dan renyah, dan bisa tahan untuk beberapa hari.


Sabtu, 18 September 2010

Menu Sarapan Pagi

Diposting oleh missmayssu di Sabtu, September 18, 2010 8 komentar
Perbedaan yang sangat signifikan antara di kota Jakarta dengan di kampoengku. Dan ini yang membuat aku selalu rindu untuk pulang. Menikmati sarapan pagi yang yummy dan harganya sangat minimalis sekali, semua itu hanya bisa kutemui di kampoengku.

Sarapan pagi wajib adalah nasi pecel. Lengkap dengan sayur, mie, tahu pedes dan 2 potong tempe goreng, nasi pecel mbak Ju ini dipatok dengan harga Rp. 2,000.00 saja. Enak, kenyang, ngangenin.
 

Alternatif lain adalah lontong sayur yu Ram, dari aku masih kecil sampai sekarang cita rasanya tidak berubah, tempat sayurnya masih memakai kuali. Satu Porsi hanya dihargai Rp. 1,000.00. Wah wah.... bikin lontongnya aja padahal semalaman tuh.


 
Yang ini soto ayam jaman aku masih kanak-kanak sampai sekarang masih keliling kampung, rasanyapun juga masih sama. Sarapan soto ayamnya lek Mariyun ini aku hanya butuh merogoh kocek Rp. 3,000.00 semangkuk, dijamin kenyang.


Bagi penggemar daging bisa menikmati nasi rawon. Nasi rawon ini derajatnya paling tinggi dibanding dengan nasi pecel, lontong sayur dan soto ayam karena harganya paling mahal. Sepiring nasi rawon dibandrol dengan harga Rp. 4,000.00. Tapi bagiku tetep aja masih murah banget.





Teman-teman yang mau datang ke kampoengku gak perlu bawa uang banyak-banyak. Kalo mau makan gratis juga ada tempatnya, tentu saja spesial di rumahku. hehe...

Senin, 13 September 2010

Silaturahmi

Diposting oleh missmayssu di Senin, September 13, 2010 2 komentar
Akhirnya kuhirup juga udara kampungku yang sekian lama hanya dalam angan. Nggak ada yang berubah disini. Kuburan belum pindah,, rumah-rumah penduduk masih belum kena gusur, cuma orang-orang yang dulu aku kenal sudah pada nggak ada. Mbah Yah yang dulu suka aku bantuin nyongkel biji buah asam sudah meninggal, mbah Nan yang suka nyapu halaman rumahku sudah meninggal, mbah Wati yang dulu suka buatin sarapan sambel Ches buat aku juga sudah pergi untuk selama-lamanya.


Hidup memang bagai roda, aku lihat anak-anak kecil bermain sepeda menyusuri jalanan gang yang sudah terpasang paving block dengan rapi, dan tak satupun dari anak-anak itu yang aku kenal, padahal mereka anak-anak teman-teman kecilku dulu. Hanya sebagian anak yang aku kenal dengan menerka-nerka wajah mereka yang kebetulan mirip dengan emak atau bapaknya. Dan tiba-tiba ingatanku langsung tertuju pada orang tua yang satu ini,, Mbah Ok...

Mbah Ok satu-satunya orang tua yang dulu dekat denganku yang kebetulan sampai sekarang masih sehat walafiat. Dahulu, aku dan adik-adikku dititipkan di rumah mbah Ok selagi kedua orang tuaku bekerja. Dan di rumah mbah Ok itulah banyak sekali pelajaran dan pengalaman berharga masa kecil yang aku miliki. Bermain di ladang tebu, menyusuri pamatang sawah, hingga berlari-lari di atas rel kereta api dikejar-kejar pak tani gara-gara teman-temanku mencuri buah semangka mini.

Di tempat mbah Ok aku sering makan nasi jagung dengan lauk Bethithi, Oseng-oseng Pedha dan Jangan Meneer, yang nggak pernah aku temui di rumah ibuku. Dirumah mbah Ok nggak ada piring dari beling, doralex, atau keramik, begitu juga dengan gelasnya. Kami biasa makan dengan piring seng dan gelas plastik yang sudah dekil tanpa menggunakan sendok atau garpu, tapi makan rame-rame bersama anak-anak mbah Ok rasanya sangat nikmat walau dengan lauk sederhana.

Lebaran kemarin aku serbu rumah mbah Ok, siapa tau ada menu nasi jagung lagi, ternyata mbah Ok sekarang menanak nasinya sudah pakai magic com, masaknya juga pakai kompor gas, dan di pojok dapurnya juga sudah berdiri kokoh kulkas dua pintu yang isinya full buah-buahan dan aneka macam minuman kaleng..
Yah,,, anak-anak mbah Ok memang sudah pada sukses, syukurlah...

Tapi rasa kecewaku bisa sedikit terobati, karena aku masih bisa menikmati jagung bakar hasil kebun mbah Ok kali ini. Nggak ada nasi jagung, jagung bakarpun jadi. Thank you mbah Ok.


Minggu, 05 September 2010

Tentang Kampungku

Diposting oleh missmayssu di Minggu, September 05, 2010 9 komentar
Tinggal beberapa hari lagi akan kuhirup hawa kampung yang sekian lama sudah aku tinggalkan.
Insyaallah...

Terbayang masa kecilku yang gemar merangkai bunga-bunga liar, meronce jali-jali, dan tersesat di kebun tebu hingga sekujur kulit tubuhku penuh dengan goresan-goresan daunnya yang tajam.
Sepertinya, banyak orang yang tidak mengenal kampungku. Mungkin itu dulu, tapi sekarang kampungku mulai menjadi buah bibir di negeri ini, atau bahkan di belahan dunia ini.

Kampungku yang terlihat tandus dan gersang, siapa sangka di dalamnya mengandung sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia. Terletak di bagian paling barat provinsi Jawa Timur di perbatasan Jawa Tengan dan Jawa Timur dan masuk dalam peta wilayah Blok Cepu. Semenjak zaman penjajahan Belanda, kota kecilku merupakan salah satu kota penting karena kandungan minyak dan hutan jatinya. Dan pada tahun 2005 kampungku mendapat perhatian nasional karena penemuan adanya deposit minyak yang sangat melimpah. Proyek Banyu Urip adalah proyek pertama yang dikembangkan pada masa setelah penandatanganan KKS ('Kontrak Kerja Sama' antara Mobil Cepu Ltd, Ampolex (Cepu) Ltd dan Pertamina EP Cepu yang meliputi wilayah area kontrak Cepu, di area Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tanggal 17 September 2005). Diperkirakan memiliki kandungan minyak lebih dari 250 juta barel. Pada masa produksi puncak, lapangan minyak Banyu Urip memiliki desain kapasitas produksi hingga 165 ribu barel minyak per hari. hmmm...keren kan kampungku..

Walaupun kampungku dilindungi oleh pegunungan kapur, kampungku termasuk dalam aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, sehingga di musim hujan sering terjadi Rob dari luapan air Bengawan Solo alias... "kebanjiran..."

Di kampungku tidak ada gedung-gedung menjulang tinggi seperti wisma BNI 46 atau Bakrie Tower seperti di Jakarta, tidak ada hotel berbintang, tidak ada Mall atau XXI tempat memanjakan mata kawula muda. Tidak ada Water Boom atau tempat-tempat rekreasi sekaliber Dunia Fantasi layaknya di Ancol. Tapi sebenarnya banyak potensi tempat-tempat wisata yang bagus jika dikelola dengan maksimal oleh pemerintah atau pihak swasta. Seperti wisata Loco di Cepu, wisata ini menyusuri sepanjang hutan jati dengan kereta tua, tentu saja ada pemandu yang siap menjelaskan tentang hutan jati mulai dari pembibitan hingga pengolahan dan kontribusinya untuk alam.
Sobat blogger tidak hanya bisa melihat pohon jati yang berdiri kokoh menantang langit, di kota kecil itu juga tersedia hasil olahan jati menjadi hiasan dan souvenir cantik karya anak-anak kampung dengan kualitas ekspor. Jika sobat blogger tidak sempat mampir ke kota Cepu, bisa mengunjungi Link sahabatku CEMOLEX untuk melihat hasil karyanya.

Selain wisata hutan, ada juga wisata kebun di Agrowisata tembakau di Bojonegoro.
Bojonegoro merupakan penghasil tembakau Virginia terbesar di Indonesia dan telah lama dikenal sebagai tembakau terbaik di dunia. Di Bojonegoro masih banyak tempat-tempat wisata, walaupun pengelolaannya belum maksimal, seperti: "Kahyangan Api", yaitu sumber api yang menyala sepanjang tahun, "Waduk Pacal" dengan pemandangan alamnya yang mempesona, dan lain lain.

Yang membuat aku makin rindu pulang tentu saja makanan-makanan kampung yang menggoda lidah. Setiap hari aku wajib makan semangkok bakso yang mangkal atau yang lewat depan rumah, malam hari bisa meluncur ke warung sate kambing 'Lek Zat' yang rasanya memang lezat..hmmm...yumyyyy... Atau sekali-kali nongkrong di deket palang kereta menikmati lontong tahunya 'Tasno', dan seringnya sih makan nasi pecel gratis di warkop 'Cak Nan',,hehe...maklum sodara sendiri, kalo dibayar suka ditolak!! Ditolak itu kan rasanya sakit sekali,, (Ditolak cinta kali...!!)

Wah...wah... Sudah nggak sabar deh pokoknya, pengen buruan sampai kampung.
Ada yang mau ikut?

Sumber: Wikipedia Cepu, Blora, Padangan, Bojonegoro


IndoBanner Exchanges

 

Rindu Kampoengku Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare